loading...
loading...

#5 Novel Motivasi hidup "Hitam" Episode 6



#5 Novel Motivasi hidup "Hitam" Episode 6 - Hai sahabat Motivasi Sudah tidak sabar menunggu kelanjutan Novel Motivasi yang berjudul hitam yah? Hehehe. Sebelumnya saya sudah memposting #4 Novel Motivasi Hitam episode 5 dan sekarang giliran  #5 Novel Motivasi hidup "Hitam" Episode 6.

Jangan lupa baca juga :

#5 Novel Motivasi hidup "Hitam" Episode 6
#5 Novel Motivasi hidup "Hitam" Episode 6
Berikut #5 Novel Motivasi hidup "Hitam" Episode 6

Belajar Hidup di tengah rimba-2

            Dengan kelincahannya kai mengajari kami gerakan bela-diri, kali lihai sekali menendang, menangkis, dengan gerakan patah-patah yang enak untuk dilihat. Lapangan kemarin adalah lokasi kai untuk latihan. Kami berlima dari tadi memperhatikan. Ini sudah sekitar dua minggu aku disini, sudah banyak pelajaran yang kudapatkan dari orang-orang pedalaman.

            Salah satu keahlian yang mesti dikuasai pula agar bisa hidup di tengah rimba adalah bela diri, aku antusias sekali berlatih, semoga saja dengan keahlian ini aku bisa membalas dendam kepada rombongan bandit itu. Semoga pula alam berbaik hati agar membukakan jalan untuk aku pulang.

            “Satu...” Kai menghitung. Kami sudah berbaris, menendang ke depan, sesuai hitungan kai.

            “Duo....” Kai berdiri di depan, kami kembali menendang ke depan, “Tendang yang keras... Bolu, kau jangan cengegesan, tendang yang benar..” Kai meneriaki Bolu yang sering sekali mengolokku, ia benar-benar menyebalkan orangnya.

            “Sekarang ganti pukulan, kalian pasang kudo-kudo tengah...”

            Kami sudah cepat memasang kuda-kuda, dengan kaki sedikit ditekuk, tubuh sedikit dihenyakkan ke bawah, kedua tangan di pinggang.

            “Pukulan kiri-kanan, satu hitungan duo kali pukulan, mulai...” Kai memberi aba-aba, kami sudah melakukannya.

            Ada sekitar dua jam kami berlatih, tenaga sudah mulai habis, keringat meluap-luap membanjiri pelipis, kami duduk di bawah pohon, menikmati semilirnya angin yang menyegarkan. Kai sudah kembali ke goa, ada kerjaan yang harus ia lakukan.

            Adalah suku pute yang menghadang kami di hari itu, sekarang aku tahu yang mana suku pute itu, suku pute berasal dari kata “Putih”, artinya yaitu suku putih. Mereka semua berkulit putih agak kekuning langsatan, seperti kulit aku, tidak heran kalau orang-orang disini banyak mengatakan kalau aku adalah suku pute.

            Suku pute merupakan musuh dari suku aye-aye. Aku masih belum tahu asal-muasal mereka bermusuhan, namun yang pasti, di hari itu mereka mencoba membunuh Ambong. Ambong berlari sekuat tenaga, namun anehnya mereka tidak mengejar aku. Dengan 5 laki-laki dewasa dan senjata tulang di tangan mereka, nyawa Ambong sudah diujung maut. Aku yang tidak dikejar, berpikir cepat untuk menyelamatkan Ambong, dengan sekuat-kuatnya kaki melangkah, aku memanggil kai. Kai dan rombongan yang sekitar 10 cepat berlarian, melihat rombongan kai lebih banyak, suku pute berlari. Nyawa Ambong terselamatkan.

            “Eeii.. Sulung, kau nak tarung samo aku tak?” Bolu yang sedikit lebih tinggi dari aku, sudah berdiri dihadapanku, tahi lalat dibawah hidungnya terlihat jelas, mengenggam tinju 

            “Kau ini suku kuli pute, ngapo pulo nak kesini... Kau tak mau tarung samo aku? Pastilah kau takut kalah, kan? Dasar manjo....” Bolu mengibaskan tangannya dihadapanku, mengajak dua orang temannya menjauh.

            Bolu tidaklah jahat, aku tahu semua orang di suku aye-aye ini baik, namun omongan Bolu memang congkak betul, Ambong saja sedikit sebal sama ucapan anak ini.

            Hei, Tumben Ambong tidak mencuap-cuap, Aku melihat ke arah Ambong. Pantas, lihatlah, Ambong sudah berada di awan mimpi, nikmat bersender di pohon, dengan kedua tangan di perut. Kelelahan karena latihan barusan, istirahat di bawah pohon, dengan semilir angin segar, memang dapat menina-bobokan.

            Otak dihampiri ide bagus, mencari rumput panjang yang menyerupai tali, dapat. Segera mengikat Ambong di pohon. Setelah dipastikan kokoh, aku sembunyi di balik pohon, melemparinya dengan ranting, menyuruhnya bangun. Sekali-dua kali kepala Ambong kulempari, masih belum bangun, dan untuk ketiga kalinya Ambong mulai tersadar. Terperanjat. Menggeleng-gelengkan kepala, mencoba mengendalikan nyawa, hendak mengangkat tangan tidak bisa, sadar bahwa dirinya terikat, Ambong mencicit panik.

            “Oyoyoy aku terikat, sepertinyo suku pute hendak membunuhku, bagaimanolah ini, hadeww... Tolongg.. Tolonggg” Ambong berteriak, menangis, “Tolong aku... Aku tak nak mati disini, suku pute tolong lepaskan aku, aku anak baik, teganyo kalian nak membunuh anak baik macam aku ini..”

            Aku sudah sakit perut menahan tawa, keluar dari balik pohon. Tertawa kencang.

            “Oyoyoy, Ambong menangis, cup.cup.cup katonyo bukan anak manjo.” Terkekeh melihat wajah Ambong yang sedang kesal, tidak jadi menangis, melotot ke arahku..

            “Sulungg... Kuhajar kau...” Ambong menggeram, memekik.




***

            “Jadi, pakai daun ini kalau hendak membersihkan gigi?” Aku sudah memegang daun rumput panjang yang banyak tumbuh di samping-samping sungai.

            “Io ... Kau cubolah dulu..” Ambong sudah menyikat giginya dengan daun.

            Ini permintaan aku. Aku yang tak kuat lagi menahan kotornya gigi bertanya ke Ambong bagaimana cara mereka membersihkan gigi. Ternyata daun rumput panjang-panjang inilah jawabannya, sebetulnya ini tidak terlalu membantu, namun lumayan daripada tidak sama sekali. Rasanya tidak enak, hampir muntah, aku segera berkumur ketika gigi sudah digosok satu persatu.

            “Nah, habis ini kito nak kemano?” Ambong mendarat di sungai. Aku ikut mendarat, “Terserah...”

            “Aku punyo permainan satu lagi, kau pastilah suko...” Ambong berkata mantap. Aku tidak terlalu bersemangat, ini pasti akan aneh lagi. Lihatlah kemarin, yang ia namakan permainan malah ternyata menjerat burung. Apa serunya coba?

            Ambong terus berjalan, menuju entah kemana. Aku mengikuti. Suara daun kering tidak pernah berhenti seiring langkah kami. Terdengar suara ayam berkokok, aku tidak heran, ayam itu bukanlah peliharaan warga kampung ataupun kota, itu adalah ayam hutan liar.

            “Kau memangnyo tidak penasaran dengan sosok “Mak Abem?” Aku memecah lengang, mensejajari Ambong berjalan.

            Ambong menggeleng, “Kenapo pulo aku harus penasaran, Mak Abem itu hantu yang menyeramkan nian... Kau tahu, mak Abem suko makan bocah-bocah macam kito ini..” Suara Ambong terdengar serius, aku mendadak ngeri mendengarnya.

            “Anak-Anak macam kito nih, pertamo ditangkap, lalu dibunuh, dicincang, lalu dimakan mentah-mentah.... Oyoyoy aku takut nian kalau dengar namo mak abem...” Suara Ambong bergetar. Aku meneguk ludah, tak bernafsu lagi membahas.

            “Mak Abem itu...”

            “Cukup-cukup Ambong, cukup yo... Nah, sekarang kito mau kemano? Permainan apo yang hendak kito mainkan?” Aku memotong kalimat Ambong, tak sanggup lagi mendengar ucapannya itu. Ambong ini, kalau sudah diajak bicara, tak bisa henti-henti.

            “Oyoyoy kau nih, aku belum selesai ke bagian paling serunyo... Sudahlah kalau kau tak nak dengar... Sebentar lagi, kito akan sampai..” Ambong mempercepat langkah, aku mensejajari.

            “Ssst...tt” Ambong berde-st menyuruh aku diam, sepertinya sudah sampai kemaan arah tujuannya. Berjalan pelan, berusaha agar tidak membuat suara sedikitpun. Sembunyi di balik semak-semak. Aku penasaran, apalagi yang akan dilakukannya kali ini. Didengar dari balik sini, sepertinya ada suara ibu-ibu yang sedang bercengkrama, melakukan sesuatu. Aku agak kaget, jadi ada orang lagi disini, apa mungkin?

            “Ambong, ini tempat siapo?” Aku bertanya saat Ambong sudah mengintip di balik semak.

            “Suku pute...” Ambong bersuara pelan.

            Astaga, Ambong kali ini benar-benar kelewatan, tidakkah dia ingat apa perkataan kai saat malam itu, dimana siangnya Ambong hampir dibunuh.

            Apa kata kai di dalam goa, malam itu? “Beruntung Ambong kau hanyo dikejar beberapa orang, kalau kau sudah ditangkap ke dalam wilayahnyo, kai tak tahu lagi harus berbuat apo, kau hanyo tinggal menunggu waktu untuk menyerahkan nyawo..” Aku meneguk ludah mengingat kalimat itu.

            Ibu-ibu suku pute itu sepertinya tengah sibuk menganyam daun, sama seperti kegiatan wanita-wanita di suku aye-aye, mereka yang bertugas membuat pakaian. Namun bedanya, suku pute tida tidur di dalam goa, mereka membuat suatu pondok. Kira-kira ada 5 pondok, hampir mirip seperti sebuah kampung yang super mini.

            “Kau lihat disano..” Ambong menunjuk ke arah api. Ada 5 ayam yang sedang mereka panggang, jadi maksud Ambong adalah mencuri makanan, itu yang disebutnya sebagai permainan. Astaga, Ambong benar-benar sudah kelewatan.

            Tempat pemanggangan itu kira-kira 10 langkah dari jarak sini, disamping sana ada banyak wanita-wanita yang asyik menganyam daun.

            Kami masih mengintip di balik semak, Ambong bilang kalau dia akan segera mengambil ayam panggang tersebut saat rombongan wanita itu tengah lengah, beberapa detik kemudian. Sebagian dari ibu-ibu itu masuk ke pondok, dan sebagian masih sibuk menganyam. Ambong dengan cepat menyibak semak, melangkah, merayap ke arah pemanggangan. Aku yang menunggu tegang, bercampur cemas, bagaimana kalau ketahuan? Bisa-bisa kami yang akan dijadikan ayam panggang. Beberapa detik berlalu cepat, Ambong sudah kembali lagi. Hei dia lincah sekali dalam hal ini, 1 ayam berwarna coklat kemerah-merahan sudah berada di tangannya. Bergegas kami menjauh dari situ.

            Aman, tidak ada yang melihat pergerakan Ambong, kami sudah kembali di lapangan itu lagi. Ambong tertawa puas, aku bernapas lega setelah dari tadi jantung seakan berdebam jatuh.
            “Kau nekad, Ambong...” Aku sedikit meninju bahunya.

            “Hidup memang begitu sulung, ado kalonyo kita harus berani mempertaruhkan nyawo untuk mendapatkan makanan...” Ambong duduk di bawah pohon, aku ikut duduk.

            “Tapi tidak dengan caro mencuri...” Aku mendesis.

            “Oyoyoy, kau tahu sulung, yang kito lakukan ini masih kecil, kai bilang kalau orang-orang diluar sano di suku lain, malah pemimpinnyo yang mencuri barang-barang milik anak buahnyo sendiri. Entahlah, aku tak tahu itu ado di suku mano, namun pastinyo itu adalah hal yang benar jahat nian. Untunglah kai itu orangnyo jujur, tak suka mencuri...” Ambong meniup-niup ayam panggang yang masih panas, menyuwirnya sedikit.

            Aku manggut-manggut, mengerti apa yang dikatakan Ambong, maksudnya adalah koruptor. Meskipun begitu, tetap saja yang namanya mencuri itu tidak baik, kecil ataupun besar.

Bersambung di Halaman berikutnya. SILAHKAN BACA KELANJUTAN NOVEL MOTIVASI YANG BERJUDUL HITAM DISINI.

Tag : #5 Novel Motivasi hidup "Hitam" Episode 6,#5 Novel Motivasi hidup "Hitam" Episode 6, #5 Novel Motivasi hidup "Hitam" Episode 6, #5 Novel Motivasi hidup "Hitam" Episode 6, #5 Novel Motivasi hidup "Hitam" Episode 6, #5 Novel Motivasi hidup "Hitam" Episode 6, #5 Novel Motivasi hidup "Hitam" Episode 6, #5 Novel Motivasi hidup "Hitam" Episode 6, #5 Novel Motivasi hidup "Hitam" Episode 6, #5 Novel Motivasi hidup "Hitam" Episode 6, #5 Novel Motivasi hidup "Hitam" Episode 6, #5 Novel Motivasi hidup "Hitam" Episode 6, #5 Novel Motivasi hidup "Hitam" Episode 6, #5 Novel Motivasi hidup "Hitam" Episode 6, #5 Novel Motivasi hidup "Hitam" Episode 6, #5 Novel Motivasi hidup "Hitam" Episode 6

Silahkan Masukkan Email anda Untuk Update Fakta Lainnya:

0 Response to "#5 Novel Motivasi hidup "Hitam" Episode 6"

Post a Comment

Tolong Jangan Melakukan SPAM ya.
KOMENTARLAH SESUAI ARTIKEL DI ATAS :)

TERIMA KASIH
ADMIN
INDRA SAPUTRA